Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
AiTeknologi

AI Sedang Bermain Dadu

×

AI Sedang Bermain Dadu

Share this article
AI Sedang Bermain Dadu
Example 468x60

MAKASSAR, Alineanews.com – Bedah Fikiran AI Sedang Bermain Dadu. By Arie Samal

Selasa sore, 10 Maret 2027, saya melakukan perjalanan dari Waepirit, Seram Bagian Barat menuju Pulau Ambon menggunakan ferry. Waktu itu sekitar pukul enam sore. Di kafetaria dek tiga, suasana kapal terasa tenang. Sebagian penumpang duduk menunggu waktu berbuka puasa sambil memandang keindahan pulau-pulau pesisir. Di salah satu meja, dua orang ABK terlihat mengisi waktu dengan permainan sederhana: melempar dadu.

Example 300x600

Dadu kecil itu berkali-kali memantul di atas meja, berhenti pada angka-angka yang tidak pernah bisa ditebak sebelumnya. Kadang satu, kadang lima, kadang dua dan seterusnya. Permainan itu sederhana, tetapi di dalamnya terdapat sesuatu yang sangat mendasar, yakni Probabilitas.

Saya memperhatikan beberapa kali lemparan. Tidak ada yang tahu angka brapa yang akan muncul. Namun pada saat yang sama, semua kemungkinan hasil sebenarnya sudah ditentukan sejak awal—hanya enam sisi yang keluar. Ketidakpastian itu ternyata berada di dalam sebuah ruang kemungkinan yang terbatas.

Melihat permainan kecil itu, pikiran saya tiba-tiba kembali pada diskusi Zoom malam sebelumnya dengan teman komunitasku, Marginal Comunity. Dalam diskusi itu kami membicarakan sebuah gagasan yang di sebut semiotika otonom, sebuah teori yang menurut saya masih hipotetis yang diajukan oleh Faisal Hamdan, Teori tersebut berangkat dari anggapan bahwa sistem tanda dapat bergerak secara relatif mandiri, membangun hubungan dan maknanya sendiri tanpa selalu bergantung pada referensi eksternal.

Tetapi dadu yang memantul di meja kapal itu justru memunculkan pertanyaan lain dalam pikiran saya.

Apakah benar sebuah sistem dapat benar-benar otonom?

Ataukah yang kita anggap sebagai “kebebasan” itu sebenarnya hanya permainan kemungkinan di dalam sistem yang sudah dibatasi sebelumnya?

Asosiasi ini membawa saya pada perdebatan klasik dalam sejarah sains. Bagi yang familiar dengan pemikiran Albert Eisntein, metafora dadu segera mengingatkan pada ungkapannya yang terkenal: “God does not play dice with the universe.” Kalimat ini diucapkan Einstein sebagai kritik terhadap pandangan probabilistik dalam fisika kuantum yang dipertahankan oleh ilmuwan seperti Neils Bohr.

Namun ironisnya, di era kecerdasan buatan hari ini, justru mesin-mesin buatan manusia tampak bekerja seperti pemain dadu yang sangat disiplin.

Sampai kapanpun AI tidak memahami makna sebagaimana manusia memahami makna. Ia tidak memiliki pengalaman dunia, tidak memiliki kesadaran, dan tidak memiliki niat. Yang dimilikinya hanyalah karingan asosisi statistik tanda.

Setiap kali AI merespons sebuah kalimat, menerjemahkan suara, atau mengenali gambar, sistem tersebut sebenarnya sedang melakukan sebuah proses sederhana namun sangat besar skalanya,
Seperti sebuah dadu yang dilempar.

Namun berbeda dengan dadu biasa, sisi-sisi dadu AI tidak muncul secara acak sepenuhnya. Meminjam istilah Arinra, Sisi-sisinya telah dibentuk oleh data pelatihan, parameter model dan algoritma pembelajaran,. Dengan kata lain, kemungkinan yang tersedia bagi AI sudah dibatasi oleh sistem yang membangunnya.

Di titik inilah muncul kritik terhadap gagasan semiotika otonom pada wilayah AI.

Dalam pandangan semiotika otonom, tanda dianggap dapat membangun sistem maknanya sendiri secara relatif independen dari kondisi material atau struktur yang mendasarinya. Seolah-olah jaringan tanda dapat bergerak bebas, menciptakan asosiasi baru tanpa batas.

Namun jika kita melihat bagaimana AI bekerja, gambaran itu menjadi problematis.

AI tidak benar-benar menciptakan makna baru. Ia hanya memilih dari ruang kemungkinan yang sudah tersedia. Pilihan itu mungkin tampak kreatif, bahkan mengejutkan, tetapi secara struktural tetap berada dalam batas distribusi probabilitas yang telah ditentukan oleh sistem.

Di sini metafora dadu menjadi sangat jelas.

Bayangkan sebuah dadu dengan enam sisi. Setiap kali dilempar, hasilnya tampak tidak dapat diprediksi. Tetapi sebenarnya kemungkinan hasilnya tetap terbatas: hanya angka satu sampai enam. Tidak peduli seberapa sering dadu itu dilempar, ia tidak akan pernah menghasilkan angka tujuh. Sebab tidak ada di dalam bangunan sistem dadu itu.

Begitu pula dengan AI. Sistem ini mungkin menghasilkan kombinasi tanda yang tampak baru, tetapi ia tetap bergerak dalam ruang kemungkinan tertutup. Makna tidak lahir dari kebebasan absolut tanda, melainkan dari seleksi probblistik dalam ruang kemungkinan yang telah di batasi.

Dengan demikian, apa yang tampak sebagai “otonomi tanda” sebenarnya lebih mirip permainan probabilits dalam sistem tertutup atau hasil dari asosiasi data statistik.

Tanda tidak sepenuhnya bebas.
Ia hanya bergerak di antara kemungkinan yang diizinkan oleh struktur sistem.

AI memperlihatkan hal ini secara telanjang. Mesin tersebut tidak memiliki kebebasan interpretasi; ia hanya memiliki seleksi probabilistik

Dan justru karena itulah AI menjadi semacam eksperimen filosofis yang menarik bahwa ia memperlihatkan apa yang sering kita anggap sebagai kreativitas tanda mungkin hanyalah hadir dari permainan probabilistik dalam ruang kemungkinan terbatas.

Dengan kata lain, ketika AI berbicara, menulis, atau menjawab pertanyaan, ia sebenarnya sedang melakukan sesuatu yang sederhana namun mendalam, yakni AI SEDANG BERMAIN DADU.

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *